Sejarah Desa

31 Januari 2017 19:18:39 WITA

SEJARAH DESA SELAT

 
 SEJARAH SINGKAT DESA SELAT 
Menurut Prasisti Gobleg Pura Batur Nomor 10.11 disebut bahwa Desa Selat
menjadi batas Utara Desa Pasraman Tamblingan. Disebut pula bahwa Ida Bhatara Dalem Tamblingan Ida Sri Maharaja Wira Tamblingan yang beristana di Tambingan memerintahkan kedua putranya supaya pindah dari Tamblingan. Ida Bhatara Dalem Tamblingan bersabda : agar putranya yg lebih tua yang mabiseka Ida Dalem Bodjog Mambet diperintahkan menuju ke Gobleg, yang diiringi oleh 5 orang pengikutnya antara lain : I Pasek, I Bendesa,
I Pengeter,, I Kubayan dan Pengengeng. Adiknya yang mabiseka Ida Dalem Dewa Rejana  diperintahkan menuju ke Selat yang diiringi oleh 4 orang pengikutnya, diantaranya : I Pasek, I Bendesa, Pengenter, dan I Kubayan.
 
Dalam perjalanan Ida Bhatara ke Selat tidak di ceritakan, dan akhirnya tibalah pada suatu tempat yang datar, disanalah beliau beristirahat bersama pengikutnya, dari tempat itu beliau merencanakan akan menuju tempat (bukit ) yang lebih tinggi yang berada di sebelah Utara. Setelah matang rencana beliau lalu memberikan petuah-petuan kepada semua pengikutnya, agar nantinya tempat peristirahatan ini diberi nama “Pura Kaleson” dan kemudian diberi nama Pura Laya Loyo serta terahir diberi nama “Pura Sukajati” Kemudian beliau melanjutkan perjalanan meuju ke bukit disebelah Utara, karena perjalanan menuju bukit cukup jauh lalu beliau beristirahat di suatu tempat, di tempat peristirahatan ini beliau bersabda kepada pengikutnya “ Wahai para pengikutku : Kelak tempat peristirahatanku ini supaya di beri nama “Gintungan”.
 
Beliau melanjutkan perjalanan menuju kearah Barat Laut menuju tempat yang datar, di tempat itu beliau ingin tinggal menetap bersama pengikutnya. Sesampainya di tempat yang datar itu, beliau meminta kepada para pengikutnya supaya di buatkan singasana. Para pengikutnya lalu membuatkan singgasana yang berupa batarateng (pondasi). Karena tempat tersebut sanggat tinggi sehingga sangat sulit untuk mendapatkan air, lalu beliau berpikir lagi untuk pindah dan mencari tempat yang mudah untuk mendapatkan air.
Sebelum beliau pindah dari tempat tersebut, beliau bersabda kepada pengikutnya” wahai semua pengikutku : Kelak tempat peristirahatanku ini diberi mana “Penataran”
 
Kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke arah Timur dan sampailah pada tempat yang berbukit,beliau beristirahat di tempat ini di bawah pohon warsiki. Dari tempat ini beliau melepas pandanganya ke arah empat penjuru untuk melihat-lihat tempat yang sesuai menurut beliau. Pada wakyu itu kebetulan beliau melihat ke arah  pucuk pohon warsiki, dilihatnyalah di pucuk pohon warsiki  tersebut ada binatang nyangnyang yang cukup besar, lalu sebelum pergi meninggalkan tempat ini beliau bersabda” wahai para pengikutku : kelak dikemudian hari tempat ini supaya diberi nama “Nyangnyangan”sekarang Bukit Gunung Sekar.
 
Tidak terkisahkan perjalanan beliau sampailah pada suatu lembah (tempat yang rendah) suasannya sanggat sejuk, karena berada di pinggir pertemuan dua buah sunggai
( campuran bahasa Bali) lalu beliau beristirahat di tempat ini. Di tempat ini beliau ingin mengaturkan sujud bhakti kepada ayahnya yang beristana di Dalem Tamlingan. Beliau memanggil para pengikutnya untuk membuatkan sarana upacara. Karena di tempat itu tidak ada pohon kelapa, yang ada hanya pohon pandan , maka pada waktu itu daun pandanlah yand dipakai sebagai alas sarana upacara. Diiringi oleh pengikutnya di tempat inilah beliau melaksanakan Yoga Semadi ngaturang sujud bakti kehadapan ayahnya yang beristana di Dalem Tamblingan. Selesai beryoga I Pasek dan I Kubayan lalu bermusyawarah bahwa mereka tidak bisa melanjutkan mengikuti Ida Bhatara, mereka ingin tinggal menetap di tempat itu, karena sudah sepakat keduanya, dan keduanya menghadap Ida Bhatara  lalu mengatur sembah : Paduka yang mulia, hamba tidak bisa melanjutkan mengikuti perjalanan yang mulia, karena hamba sudah sepakat berdua untuk tinggal menetap di tempat ini,tetapi hati hamba tetap setia dan subakti kepada paduka yang mulia. Lalu Ida Bhatara bersabda : wahai pengikutku, I Pasek dan Kubayan, kalau itu memang  kehendak Pasek dan Kubayan, itu tidak apa-apa, kamu berdua tinggalah di tempat ini, dan kelaki dikemudian hari tempat tinggal Pasek dan Kubayan ini berilah nama “Mailan” yang berasal dari kat “Mai” dan “lan”.
 
Karena I Pasek dan I Kubanyan sudah mendapatkan tempat tinggal menetap, lalu Ida Bhatara melanjutkan perjalana hanya di iringi oleh I Bendesa, dan I Pengeter. Beliau melanjutkan perjalanan ke arah Utara  dan sampailah pada suatu tempat, di mana ditempat itu terdapat batu yang cukup besar, dari atas batu itulah beliau beryoga untuk berhubungan dengan ayahndaNya yang berada di Dalem Tamblingan, lama kelamaan batu ini di sebut “Batu Bantenan”. Setelah lama beliau tinggal bersama pengikutnya di tempat ini lalu beliau naik Tahta yang diberi nama “ Dalem Purwa”. Di tempat beliau beristana dikelilingi oleh hutan pandan, sehingga para pengikutnya tidak sulit lagi untuk mencari sarana upacara. Oleh karena stana Ida Bhatara dan tempat tinggal I Pasek dan I Kubayan di batasi oleh hutan pandan maka maka tempat beliau berstana disebut “Selat Pandan Banten”.
Setelah beliau naik Tahta, beliau mengumpulkan semua pengikutnya dan bersabda : wahai semua pengikutku pada hari ini aku mengumpulkan kalian bertujuan untuk memberi tugas-tugas kepada kalian semua. Dengarkanlah wahai pengikutku :
-        I Pasek saya tugaskan untuk menegakkan pelaksanaan Panca Yadnya.
-        I Bendesa saya beri tugas untuk menegakan kendali dalam Pemerintahan di Desa Adat.
-        I Pengenter bertugas menjadi pemegang kendali pemerintahan pada wilayah Desa Selat Pandan Banten.
-        I Kubayan bertugas sebagai pembantu I Pasek dan I Bendesa dalam melaksanakan upacara Yadnya.
Pada kesempatan ini pula Nita berpesan kepada kalian semua, apabila nanti aku moksa buatkan dan stanakan aku pada Singgasana yang berbentuk Padmasana yang terbuat dari kayu tenggulun, karena aku adalah sebagai penghulu di wilayah desa Selat Pandan Banten. Dan gelarku Bhatara Dalem Purwa berstana di Mandala  Utama (jeroan).
Kelak dikemudian hari tempat ini di jadikan sebgai Pura Dalem Desa Selat Pandan Banten yang merupakan bagian dari Pura Kahyangan Tiga, dan sebagai pelengkap pada Madia Mandala buatkanlah stana Ida Bhatara Merajapati.
 
Demikianlah sekilas Sejarah Desa Selat atau kisah perjalanan Ida Bhatara dari Dalem Tamblingan menuju Desa Selat Pandan Banten. Semoga pembaca dapat menyempurnakannya

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

Prakiraan Cuaca

Jam