Desa Selat Penghasil Cengkeh Terbesar di Bali

INFO SELAT 24 Juli 2018 12:12:10 WITA

TIMESINDONESIA, BULELENG - Tak banyak yang tahu, bahwa Kabupaten Buleleng, Bali, merupakan lumbungnya pengasil cengkeh yang melimpah di Provinsi Bali. Salah satunya, pengasil cengkeh di Dusun Witajati, Desa Selat , Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali. 

Di Desa Selat, selain memiliki hutan lindung yang cukup luas, di kawasan tersebut juga terlihat adanya perbukitan yang ditanami kopi, cengkeh dan kakao (coklat) serta tumbuhan lainnya.  

Made Artawan selaku perbekel Desa Selat atau Kepala Desa, menjelaskan bahwa Desa Selat dalam ketinggian permukaan mencapai 200 atau 900 M. Sementara, untuk iklim cuacanya tidak terlalu panas atau pun dingin. Jadi, segala tanaman yang ditanam akan tumbuh subur.

Nyoman-Genep-2.jpg

"Makannya untuk pertanian di Desa Selat, semuanya serba cocok. Mulai dari cengkeh, coklat, kopi, buah mangga dan lainnya," ucapnya, saat ditemui di Balai Banjar Dwijati, setelah melihat para penduduk panen raya cengkeh. Sabtu (21/7/2018) kemarin. 

Artawan juga menjelaskan, untuk jumlah penduduk di Desa Selat mencapai 8.335 jiwa yang terbagi dari 7 Dusun. Namun, untuk pengasil cengkeh di Desa Selat berada di Dusun Dwijati, Sekar Sari dan Dusun Gunung Sekar. 

"Kalau pengasil cengkeh yang cukup bagus ada di Dusun itu. Kalau masyarakat kami sebagian besar petani hampir 80 persen, khusus petani cengkeh," ujarnya. 

Sementara Nyoman Genep, selaku kepala Dinas Pertanian, Kabupaten Buleleng, Bali, saat ditemui di tempat yang sama, setelah membaca ramalan raya, bahwa Kabupaten Buleleng adalah basis pertanian.

"Kalau kita cermati di Kabupaten Buleleng, sumbangsihnya dari sektor pertanian yang sangat besar. Sangat penting, untuk serapan tenaga kerja hingga 32 persen yang bekerja di sektor atau sektor cengkeh," ujarnya. 

Nyoman juga menyampaikan, di Kabupaten Buleleng hampir 50 persen kawasan perkebunan cengkeh. Agar produksi cengkeh terus baik dan berkembang, khususnya di Desa Selat. Dari pihaknya akan terus mensosialisasikan tentang cengkeh agar terhindar dari serangan penyakit jamur putih pada pohon cengkeh. Jadi, produksi cengkeh terus membaik dan berkembang.

"Hal itu adalah upaya-upaya penanganan kita. Kemudian, kita akan terus meningkatkan peran petani atau kelompok-kelompok yang bisa melakukan penanggulangan penyakit. Sungguh terus kita bina, dan harus kita sadari tanaman cengkeh menjadi tulang punggung pendapatan dan tenaga kerja," ungkapnya. 

"Maka untuk kedepannya akan terus dikembangkan. Terus dalam pembenihan konsultasi dan sertifikasi. Kemudian, bagaiman membina pemupukan dan sebagainya. Karena petani cengkeh, harus terus berkelanjutan," tambah Nyoman. 

Nyoman juga mengungkapakan, pada tahun 2016 dan 2017, produksi cengkeh di Buleleng Bali, yang disebut anjlok karena pengaruh Cuaca hujan. Demikian, bunga cengkeh gagal panen. Namun pada tahun 2018 ini, adalah panen raya, dan di beberapa desa Pengasil cengkeh saat ini cukup kewalahan untuk mencari buruh petik tangkai bunga cengkeh. 

"Untuk produksi cengkeh di Buleleng itu di tujuh kecamatan dan kurang lebih luas lahan 7800 hektar. Untuk produksi dari tahun 2015, itu menurun sampai 2017 kemarin. Kalau di tahun 2015 itu hampir 4 ribu lebih ton (Cengkeh). Kalau di tahun 2017 itu adalah hampir 251 ton lebih. Hal itu, terjadi karena faktor musim hujan yang lebat dan berpangruh terhadap pembungaan cengkeh, "tutupnya. (*)

 
 

Komentar atas Desa Selat Penghasil Cengkeh Terbesar di Bali

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

Prakiraan Cuaca

Jam